Karya: Harby Refsi Firdaus
Di sebuah perdesaan tinggalah seorang anak yang bernama
Muklis. Dia seorang anak dari keluarga yang kurang mampu, orang tuanya bekerja
sebagai buruh tani. Dia sehari-hari bekerja sebagai pengembala sapi untuk
mencukupi kebutuhan keluarga nya sehari-hari
Setiap hari ia selalu melihat teman-temannya pergi untuk
berangkat ke sekolah. Dalam hatinya ia
selalu menginginkan untuk pergi bersekolah bersama-sama dengan teman-temannya
tetapi kondisi pun tidak memmungkinkan untuk bersekolah.
Setiap waktu ia selalu mengeluh kepada orangtua nya
“Mengapa aku tidak bisa untuk bersekolah?”. Orang tua nya pun hanya mampu
berkata “Nak, maafkan ayah dan ibumu ini yang tidak bisa menyekolahkanmu. Suatu
saat nanti kamu pasti akan bersekolah”. Hatinya pun terus berkata “Kapan,
Kapan, Kapan?”
Suatu saat ada perlombaan Cerdas Cermat dipedesaannya.
Dengan niat yang tulus ia pun bergegas untuk mendaftarkan dirinya ke perlombaan
itu. Keeskoan harinya perlomban itu pun dimulai, tepat pada jam tujuh pagi ia
datang ke perlombaan itu, padahal perlombaan itu dimulai jam delapan pagi. Begitu
semangat nya ia mengikuti perlombaan itu. Perlombaan pun dimulai, ia mengikuti
perlombaan dengan penuh semangat. Tak terasa perlombaan itu telah selesai. Dan
saatnya waktu yang ditunggu-tunggu pun
tiba, yaitu pengumuman siapa yang menjadi pemenangnya. Dan ternyata yang
menjadi pemenangnya adalah si Muklis itu! Hati Muklis pun snagat gembira,
ditambah lagi setelah ia mengetahui hadiah yang didapatnya. Dan ternyata hadiah
nya adalah “BEASISWA SEKOLAH”. Dengan beasiswa itu ia bisa masuk ke SMP Negeri
favorit didesanya. Hatinya sangat gembira dengan sedikit terharu karena ia bisa
bersekolah seperti teman-temannya yang lain.
Muklis pun bergegas untuk pulang kerumah. Tak sabar ia
ingin memberitahukan kepada orangtuanya bahwa ia sekarang bisa bersekolah
seperti yang ia inginkan. Setelah sesampainya dirumah, ia pun langsung
memberitahu orang tuanya. Orang tuanya pun sangat gembira karena tahu kalau anaknya
bisa bersekolah. Orangtuanya pun sampai menestakan airmata karena begitu
terharunya. Perasaan orang tuanya pun campur aduk, antara bahagia dan terharu.
Begitu juga dengan perasan hati Muklis saat itu.
Waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Tepatnya pada
hari Senin, Muklis pun bergegas untuk berangkat sekolah. Dengan sedikit
terburu-buru karena takut terlambat, dia pun tidak sarapan pagi terlebih
dahulu. Begitu semangatnya ia ingin bersekolah. Ia datang setengah jam sebelum
bel masuk berbunyi. Begitu bel berbunyi, Muklis pun masuk kedalam kelas nya.
Tepatnya pada kelas IX C (Sembilan C). ia duduk dikursi paling depan. Ia pun
sangat memperhatikan setiap guru yang mengajar. Tak terasa, bel pulang pun
berbunyi. Muklis pun segera pulang menuju rumahnya.
Sesampainya dirumah, ia pun langsung belajar dan mengulas
atau mengulang materi yang telah disampaikan oleh guru nya disekolah tadi, dan
ia mengerjakan tugas yang diberikan.keesokan harinya ia berangkat kesekolah
dengan temannya. Sesampainnya disekolah bel masuk pun berbunyi. Ia mengikuti
kegiatan belajar mengajar seperti biasanya.
Tak terasa Ulangan semsester pun tiba. Ia belajar dengan
sungguh-sungguh. Ia mengikuti Ulangan dengan penuh semangat dan bekerja keras.
Seminggu berlalu ulangan pun telah usai. Kini, saatnya pembagiaan raport pu
ntiba. Dan tak diduga si Muklis pun mendapatkan Juara 1 dikelasnya. Perasaan Muklis
pun sangat bahagia begitu juga dengan orangtunya.
Muklis pun mengingat perkataan orang tua nya yang lalu,
yaitu “Nak, maafkanlah ayah dan ibumu ini yang tidak bias menyekolahkanmu, suatu
saat nanti kamu pasti akan bersekolah”. Muklis pun sangat berterima kasih
kepada Tuhan Yang Maha Esa karena perkataan orang tuanya pun bias terwujud.
-SEKIAN-
(Maaf jika masih ada kekurangan)
(Cerita ini saya tulis karena
kondisi Pendidikan di Indonesia ini sangat memperhatinkan! Banyak diluar sana yang tidak mampu
sekolah hanya karna keterbatasan biaya! Saya sangat ingin agar Seluruh anak di Indonesia bias
mendapatkan pendidikan yang baik!)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar