Puasa. Terdengar seperti berbicara, 'Puas lo?'
Sekar merasa puasa
tahun ini mengolok-ngolok dirinya. Tepat seminggu lalu, Akbar, suami
yang dicintainya, belahan hatinya, separuh nyawanya, diambil oleh Allah
Sang Pemilik Nyawa.
'Jangan lupa, walau sedih tetap puasa,' ujar Rina temannya.
Huh,
tahu apa Rina, batin Sekar. Ia masih sendiri, tidak punya suami. Ke
sana ke mari bersenang-senang mencari lelaki yang bisa dijadikan
pasangan hidup. Sementara Sekar sudah selesai fase hidup ini. Ia sudah
pernah mengalami putus berkali-kali hingga akhirnya bertemu Akbar.
Bertemu di acara kantor, Akbar datang menemani sepupunya Anisa yang tamu
di acara itu. Sama-sama langsung tertarik dan bertukar nomer telepon.
Lalu karena sudah jodoh, kurang dari setahun mereka menikah.
Bertahun-tahun bahagia, tepatnya enam tahun, dengan anak laki-laki
satu-satunya Tegar, berusia lima tahun.
Jadi ini sungguh tidak
adil. Banyak berita aneh-aneh di media massa, mulai dari kasus
nikah-cerai, sampai kasus penganiayaan suami ke istri dan sebaliknya,
hingga bunuh-bunuhan pasangan. Tidak dengan aku, teriak Sekar di
batinnya. Sekar merasa, dirinya berada di situasi yang membahagiakan.
Yang menyenangkan dan ideal. Ia berharap ia adalah Cinderella dan Akbar
adalah pangeran, lalu mereka hidup di istana rumah mereka hingga tua
nanti. Nanti, nanti yang jauh. Nantiiiiiiii sekali. Ketika anak mereka
Tegar sudah menemukan istri yang dicintainya, sehingga mereka
beranak-pinak dan mengumpul di saat Hari Raya. Ia dan Akbar menjadi
saksi pasangan yang bahagia hingga kaken ninen. Demikian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar