Perkenalan gue dengan Amir dan Henri dimulai dari sebuah layang-layang
putus. Lebih awal lagi, perkenalan tersebut dimulai dari suatu Minggu
sore, ketika Bokap ngajak gue main layangan.
Waktu itu gue masih
kelas lima SD, asik sendiri main video game di ruang tengah. Bokap
nyamperin gue dari ruang makan. Setelah gagal mengerti permainan apa
yang sedang gue mainkan, dia bilang, 'Waktu Papa seumur kamu, Papa
enggak ada main game-game. Kau bisa jadi bodoh lho kalau main game
terus.'
'Abis gak tau lagi mesti main apa, Pa.' Gue sibuk
mencet-mencet tombol controller game, sesekali tampilan gambar di TV
tercermin di kacamata gue yang kebesaran.
Bokap melihat ke luar jendela. 'Kau harus coba main di luar, main
layangan. Bisa gak main layangan?'
'Layangannya gak ada,' kata gue, masi tetap fokus bermain game.
Bokap
memainkan kumisnya. Sejam kemudian, dia datang kembali ke ruang tengah
bersama satu buah layangan dan satu gelas benang. Bokap berkata penuh
kemenangan, 'Nah, sudah tak bisa kau tolak lagi kan? Yuk. Main
layangan.'Gue menggaruk kepala, lalu mematikan SEGA 32BIT dan game Sonic The
Hedgehog yang sedang gue mainkan. Bokap gue terlihat bersemangat,
langsung lari ke luar rumah. Sewaktu gue baru mau menyusulnya, Nyokap
gue tiba-tiba keluar dari kamarnya. Dia nanya, 'Dika, kamu mau main
layangan?'
'Kenapa emang, Ma?'
'Udah pake sunblock belom?'
'Ma, mana ada anak-anak main layangan pake sunblock?'
'Duh, Dika, nanti kalo kulit kamu gosong, kamu jadi item lho. Perawatannya nanti mahal. Nanti muka kamu belang-belang.'
Belom
sempet gue ngomong apa-apa lagi, Nyokap sudah sibuk melumuri badan gue
dengan sunblock. Tangan, leher, dan kaki gue terlihat mengkilat,
lengket, dan bau. Gue terlihat seperti orang yang habis diludahi
ramai-ramai.
Begitu ke luar rumah, gue langsung mengadu pada Bokap. 'Pa. Ini masa main layangan kata Mama harus pake sunblock?'
'Oh iya!' kata Bokap. 'Papa belom pake sunblock!'
Dengan kulit yang mengkilap-kilap, gue dan Bokap sudah siap di luar
pagar rumah. Jalanan komplek rumah kami sebenarnya tidak ideal untuk
menerbangkan layangan. Lebar jalan tidak terlalu lebar, malah lebih
mirip gang dibandingkan jalanan. Tapi, menurut Bokap, orang yang jago
menerbangkan layangan tidak membutuhkan tanah lapang. 'Nerbangin
layangan hanya butuh dua: angin dan keahlian. Kayak Papa ini,' dia
menunjuk ke arah dadanya, seolah juara dunia layangan.
Bokap
menjulurkan tangannya ke udara, mencoba menebak arah angin. Bokap
manggut-manggut sendiri, lalu dia bilang, 'Nah. Kamu berdiri di situ.'
Dia menunjuk beberapa meter ke sebelah kiri. Gue diminta menaikkan
tangan gue ke atas, memegang layang-layang itu tinggi-tinggi.
Mungkin
anginnya cukup baik sore itu, dan mungkin Bokap gue emang jago, dengan
sekali percobaan, layang-layang gue perlahan-lahan terbang tinggi.
Gue bergantian memegang benang dengan Bokap. Menerbangkan layang-layang
hampir terasa membosankan, sampai akhirnya Bokap melihat ada
layang-layang warna hijau perlahan mendekat dari kejauhan. Ekspresi
Bokap langsung berubah menjadi senang, seakan bertemu dengan kawan lama
yang sudah lama tidak dia temui.
'Wah ada layangan orang nih,' kata Bokap. 'Dika, nih, Papa kasih lihat bagaimana caranya berantam sama layangan.'
'Berantem gimana, Pa?'
'Iya, adu layang-layang. Lihat Papa nih.'
Bokap
mengulur benang layangan, layangan dia menukik tajam, berada di bawah
layangan warna hijau. Layangan Bokap sedikit berputar, dan dengan
tiba-tiba bokap gue menarik benang secara cepat, benang layangan gue
mengait benang layangan warna hijau. Bokap mengulang-ulang gerakan
barusan, benang layangan gue dengan layang warna hijau terus-menerus
bergesek, dan... layangan tersebut pun putus.
'Mati kau!' teriak Bokap. Lalu dia tertawa.
'Pa, itu... layangan orang... diputusin?'
'Iya, sudah mati dia punya layangan. Coba kau kejar layangan putus itu,' kata Bokap.
Gue mengambil sepeda dan menuju layangan putus tersebut. Beberapa gang
di sebelah rumah gue lewatin, sampai akhirnya di mulut gang Jalan Ciawi
VI, gue ngeliat ada dua anak berlari sambil memegang segelas benang yang
dililitkan dengan rapi. Umurnya, gue taksir, tidak beda jauh sama gue.
'Eh maap, bentar!' kata gue memanggil mereka dari belakang. 'Itu tadi yang putus... layangan elo?'
'Kenapa emang?' tanya salah satu dari mereka.
'Itu, tadi... Tadi bokap gue yang mutusin,' kata gue. 'Maap ya. Sini, biar gue bantu kejar.'
Dan itulah bagaimana gue berkenalan dengan Amir dan Henri.
Semenjak kejadian layang-layang itu, gue jadi berteman baik dengan Amir
dan Henri. Setiap sore mereka akan datang ke rumah, ngajak gue main di
sekitar komplek. Mereka punya cara unik untuk memanggl gue keluar dari
rumah yaitu dengan mengeluarkan siulan dari dua telapak tangan yang
ditutup lalu meniup pada bolongan antar dua jempol. Bunyinya tut tut
tuit.. tititiut... tuit tiut. Seperti bunyi burung kutilang. Gue sendiri
pernah mencoba untuk mengeluarkan siulan tersebut, tapi jadinya malah
cempreng, seperti burung kutilang menjelang ajalnya.
Sore itu
siulan tersebut terdengar dari lantai dua kamar gue, dan gue langsung
beranjak ke bawah sambil membawa tas punggung kecil, berisi snack dan
beberapa komik.
Nyokap yang melihat gue terburu-buru, langsung bertanya, 'Pergi lagi? Sama.. siapa, temen kamu yang baru itu?'
'Amir.' Gue mencium tangan Nyokap, pamitan. 'Sama Henri.'
'Oooh. Mama aja gak bisa bedain antara Amir sama Henri,' kata Nyokap.
Tentu saja, Amir sama Henri dari penampilannya udah beda banget.
Amir
lebih hitam dan kurus dari pada Henri. Rambut Amir belah tengah rapih.
Dia sisir dengan begitu hati-hati hingga terlihat satu garis sempurna
yang membelah kepalanya jadi dua. Warna rambutnya sama kayak Henri, agak
sedikit kemerahan karena sering main di luar rumah, kena sinar
matahari. Dia sering memakai polo shirt lusuh, kesukaannya adalah yang
garis-garis biru. Rambut Henri, di satu sisi, cepak seperti tentara. Dia
lebih senang memakai t-shirt kebesaran, hasil hibah kakaknya. Gigi
depannya sedikit tonggos, jaraknya jarang-jarang.
Permainan yang paling sering gue, Amir, dan Henri lakukan adalah main
berantem-beranteman. Sehabis menonton Ksatria Baja Hitam, kami akan
berpura-pura jadi Kotaro Minami. Sehabis nonton Ultraman, kami
berpura-pura jadi Ultraman. Seringkali, dalam permainan seperti ini,
Henri yang jadi monster. Ketika Henri bertanya kenapa dia melulu yang
jadi monster, Amir menjawab santai, 'Abis muka lu udah nyeremin,'
'Kita main Power Ranger aja deh,' kata Henri, di salah satu sesi main berantem-beranteman.
'Yuk,' kata gue.
'Gue Ranger Merah,' kata Amir.
'Enggak. Gue Ranger Merah. Sekali-kali gue pengen jadi jagoan,' kata Henri, kali ini gak mau kalah.
'Yeee. Gue yang Ranger Merah. Lo Ranger Putih aja. Sama-sama jagoan kok. Ranger Putih aslinya gondrong lagi. Keren.'
Henri
protes, 'Tapi, kata emak gue putih gampang keliatan kalo kotor. Nanti
kalo berantem, bajunya kotor gimana? Kan gampang keliatan?'
'Lah?
Menurut lo mereka berantem mikirin bajunya bakal kotor apa enggak?!
Bumi diserang monster, masa lo mau mikir baju lo bakal kotor. Lo tau
gak, kalo monster menguasai dunia, baju lo gak bakal ada yang bisa
nyuci. Karena emak lo udah dimakan monster!'
'Oke! Oke! Kita
boleh berhenti ngomongin bajunya Power Ranger gak?' tanya gue, kesel
ngeliat mereka berantem enggak jelas begini.
Akhirnya, Amir pun tetep jadi Power Ranger.
Dalam kasta pertemenan kami, Amir memang yang paling tinggi sering
dianggap sebagai pemimpin. Gue nomer dua, sedangkan Henri yang memang
kemampuan berpikirnya paling lemot, yang paling sering diledekin.
Selain
main perang-perangan, kami juga suka berjemur di atas mobil tua warna
merah yang sering ditaruh pemiliknya di pinggir sungai. Amir tiduran di
atas atas mobil. Gue di kap. Sedangkan Henri, seperti biasa, agak
terbuang, di atas bagasi.
Amir menaruh kedua tangannya di belakang kepala, tiduran melihat matahari terik. Amir bilang, 'Rasanya kayak di Miami ya.'
'Iya,' kata gue.
'Iya,' kata Henri.
Kami bertiga gak ada yang pernah ke Miami.
Kadang
kami tiduran selama setengah jam. Kadang, kalau cuaca lagi sangat
terik, bisa sampai dua jam. Henri biasanya yang tidur paling nyenyak.
Gue tiduran sambil baca komik. Sementara Amir lebih suka bengong,
ngeliat daun-daun goyang ditiup angin.
Semakin gue sering menghabiskan waktu bersama mereka, semakin keluarga
kami dekat dengan satu sama lain. Setelah sebulan main bareng, Amir dan
Henri akhirnya berencana nginep di rumah gue. Sewaktu gue bilang ini ke
Nyokap, dia langsung semangat ingin membuat kesan yang baik terhadap
temen-temen gue ini. Dia pergi ke supermarket, menyuruh pembantu
merapihkan seluruh rumah.
'Gak usah repot-repot, Ma,' kata gue.
'Enggak. Kamu kan jarang banget punya temen. Apalagi sampe nginep segala. Rumah harus bener-bener perfect, Dika.'
Acara
menginap bareng itu pun dimulai dengan menyantap masakan sukiyaki
buatan Nyokap yang enak. Sesudahnya kekenyangan, kami main game Mortal
Kombat di ruang tengah. Baru setelah itu kami pergi ke kamar gue di
lantai dua, tidur-tiduran baca komik.
Nyokap bolak-balik ngecek apa yang kita lakukan di kamar, memastikan gue
dan teman-teman gue nyaman. Hampir setiap sepuluh menit Nyokap mengetuk
pintu kamar gue, mengintip sedikit, dan bertanya, 'Mau makan apa lagi?'
Di dalam kamar sudah ada pizza, coca-cola, keripik, dan berbagai macam
kudapan lainnya. Gue bilang, 'Kayaknya kita semua udah kenyang deh, Ma.'
'Hmmmm.' Nyokap memandang ke langit-langit rumah, berpikir keras. 'Ah. Es krim kali ya? Belum ada kan?'
Setengah jam kemudian, es krimnya tiba.
'Es krimnya datang!' seru Nyokap sambil memegang nampan berisi es krim superbesar.
'Udah,
udah, kenyang tante,' kata Henri, memegangi perutnya.
'Sudah. Makan, makan yang banyak,' kata Nyokap dengan mata kosong.
seakan-akan sedang mempersiapkan mereka untuk disembelih nanti malam.
'Kok... gue jadi takut ya sama Nyokap lo,' bisik Henri ke gue.
'Gue... juga jadi takut, Hen,' kata gue, lemes.
Seminggu kemudian, gantian kami nginep di rumah Henri. Keluarga Henri
sangat baik malam itu, mereka mengajak gue dan Amir jalan-jalan ke Blok
M, di sana Bokap Henri membelikan gue satu kaos bergambar Superman.
Henri dibelikan kaos Supergirl, sementara Amir dibelikan kaos bergambar
Batman. 'Biar kalian kompak,' kata orangtua Henri. Bukannya terlihat
kompak, kalau begini gue dan Henri terlihat seperti lagi memakai couple
t-shirt, sementara Amir adalah selingkuhan yang tidak dianggap.
Hanya
rumah Amir yang belum pernah kami inapi. Kata ibunya Amir, rumah mereka
terlalu kecil untuk dijadikan tempat nginap. Sebagai gantinya, setiap
kali kami main ke rumah Amir, ibunya akan membuatkan kroket lezat. Rumah
Amir juga sering kita jadikan basecamp, tempat buat nongkrong sebentar,
sebelum kita bermain keliling kompleks.
Kadang gue jadi mikir, banyak kegiatan masa kecil yang seru untuk
dilakukan ketika kita masih kecil, tapi begitu udah besar jadi malah
jadi gak seru. Gue, Amir, dan Henri suka main sepeda-sepedaan sambil
tendang-tendangan samping. Jika hal tersebut dilakukan kita sudah dewasa
sekarang, kita terlihat seperti dua idiot yang mengganggu lalu lintas.
Gue,
Amir, dan Henri juga sering main bareng main busa-busaan, sambil
teriak-teriak di kamar mandi. Jika gue, Amir, dan Henri berumur 30 tahun
dan mandi busa bareng-bareng... pasti kelihatannya sangat-sangat aneh.
Inilah kehebatan pertemanan masa kecil: bermain tanpa takut terlihat bodoh.
Pada bulan Ramadan tahun 1997, Amir dan Henri mengajak gue untuk Tarawih
di masjid kecil dekat rumah. Sebagai mana lazimnya anak SD lain, ketika
Tarawih, setiap kali Al-Fatihah selesai, kami akan teriak AMIN
kencang-kencang di dalam masjid. Sebagaimana lazimnya anak SD lain juga,
sepulang Tarawih kami juga sering nongkrong di depan masjid, ngobrol
sambil makan kacang rebus, atau gorengan yang sudah dingin.
Suatu
malam sepulang salat Tarawih, Amir mengajak gue dan Henri ke rumahnya.
Di dalam kamarnya, Amir mengeluarkan satu buah plastik hitam, dari bawah
tempat tidur. Amir tersenyum lebar. 'Di dalem plastik ini ada petasan
jangwe.'
'Petasan.. jangwe?' tanya gue, tidak pernah mendengar kata itu sebelumnya.
Gue ngambil salah satu petasan jangwe yang ada di dalam plastik. Lalu
memegangnya sambil heran. Petasan tersebut berukuran lonjong kecil,
hanya sebesar tiga buku jari, dibungkus kertas berwarana biru
bertuliskan Whistling Moon. Ada sumbu pendek berwarna hijau di ujung
bawah, dan di punggung petasan menempel lidi dicat merah.
Amir mengambil satu buah jangwe dari dalam plastik. 'Lo pernah main petasan kan, Dik?'
'Iya, yang nyala-nyala kalau dibakar itu kan? Iya gue suka main sama Bokap, gue suka gue puter-puterin.'
'Gila, berani banget lo.' Henri terkagum.
'Iya,' lanjut gue. 'Terus apinya muncrat-muncrat gitu warna-warni.'
Amir
sewot, 'Ya elah, itu mah kembang api! Petasan kali, Dik. Petasan! Yang
bisa meledak gitu bunyinya keras. Bisa meledak. Kayak jangwe ini. Keren
deh. Kita coba ya.'
'Itu... bukannya bahaya, ya?'
'Lo takut?' tanya Amir.
Dalam
hati, sebenarnya gue tahu main petasan itu berbahaya. Seorang teman
pernah cerita pengalamannya main petasan teko, sejenis petasan hardcore
yang bentuk dan ledakanya paling besar. Dia dan teman-temannya pernah
menyalakan petasan teko di depan kandang ayam milik tetangga. Petasan
tekonya meledak. Pintu kandangnya rusak. Ayamnya gak mau bertelor selama
dua minggu.
Amir mengulang pertanyaannya, 'Gimana? Takut?'
'Ya udah, yuk,' kata gue. 'Tapi... kalo Nyokap gue tau gimana?'
'Kan lo bisa bohong ke Nyokap lo,' kata Amir, santai.
Amir tersenyum lebar, lalu mengajak kami pergi ke taman deket rumah.
Sesampainya di taman, Amir menancapkan lidi petasan jangwe ke dalam
tanah. Amir jongkok, dia menyalakan korek. Angin sedang cukup keras
malam itu, api dari korek lebih cepat mati sebelum sumbu bisa
dinyalakan.
'Udah? Udah nyala belom?' tanya Henri, tangannya menutup kuping, matanya sedikit mengintip.
'Belom. Susah nih,' kata Amir.
'Hah?' tanya Henri.
'Belom, belom nyala.'
'APAH?!'
'KUPING LO KETUTUP, BEGO. PETASANNYA BELOM NYALA,' teriak Amir.
'Oh iya,' kata Henri, baru sadar kupingnya tertutup.
Beberapa saat kemudian, Amir berhasil menyalakan petasannya. Percikan
api keluar arah sumbu dan petasannya terbang ke atas, menimbulkan suara
yang sedikit mirip dengan suara siulan, muter-muter sebentar, lalu
meledak di udara.
'Waaaa.. Keren banget,' kata gue, kagum melihat petasan jangwe menyala untuk pertama kali seumur hidup.
Kami
bertiga langsung menggila petasan-petasan jangwe milik Amir.
Pertama-tama, kami menyalakan jangwe ke arah bangku taman. Lalu kami
mencoba memadukan petasan jangwe dengan semua benda yang kami temukan.
Jangwe kami masukkan ke dalam botol, bambu, bahkan Amir dengan pose
jagoan memegang petasan jangwe langsung di tangannya. 'Keren gak gue?'
tanya Amir. 'Keren banget,' kata gue dan Henri dengan mata berkaca-kaca.
Setelah itu kami pindah nerbangin jangwe ke arah jalan. Lalu kami mulai
bandel, ngumpet di semak dekat taman, menunggu orang lewat. Henri
menunjuk ke arah seorang mbak-mbak yang sedang jalan malam, 'Itu! Ada
korban!'
Petasan jangwe kami nyalakan. Dari balik semak petasan
jangwe terbang seperti roket ke arah mbak-mbak yang gak tahu apa-apa.
Lalu meledak di dekat kakinya.
'AAAAH!' si Mbak-Mbak teriak, lalu loncat di tempat.
Kami
ketawa sampai gak bisa napas. Si Mbak-Mbak jalan ke arah kami ngumpet
dan ngelempar satu buah sendal jepit. Dia menjerit, 'Anak-anak
kurangajar!'
Kami langsung ngambil sepeda, mengayuh kembali ke rumah Amir. Sesampainya di sana, kami langsung tos-tosan.
'Hahahaha! Lo lihat muka Mbak-nya gak tadi? Dia kayak mau ngelahirin ya?!' seru Henri.
'Hahahah! Iya!' seru gue.
'Iya! Kayak mau ngelahirin!' kata Amir.
Kami bertiga gak pernah ngeliat muka orang lagi ngelahirin
Hari demi hari, gue jadi gak sabar nungguin Tarawihan. Di sekolah, yang
ada di pikiran gue hanya secepatnya pulang ke rumah, buka puasa, pergi
Tarawih, lalu langsung main petasan. Nyokap pun memberi komentar
kebiasaan baru gue ini, 'Wah, hebat ya kamu sekarang. Jadi rajin
Tarawihan, jadi rajin solat. Tapi kok Tarawihnya di mesjid kecil itu?
Gak mau Tarawih di Masjid Al-Taqwa aja sama Papa?'
'Enggak, Ma,'
jawab gue. 'Amir sama Henri sukanya di mesjid itu. Al-Taqwa kejauhan.
Mesti naik mobil sama Papa. Jadi mesjid itu aja, sekalian sepedaan sama
Amir sama Henri.'
Nyokap menggeleng. 'Amir sama Henri memulu.
Papa kamu padahal juga nungguin kapan mau main layangan lagi. Hari
Minggu kamu bisa gak?'
'Yah, Minggu aku mau jalan-jalan sama Amir, sama Henri.'
'Ke mana?'
'Uhh, sepedaan. Ke Monas,' kata gue, berbohong.
Sebenarnya gue bakalan pergi ke pasar Melawai, membeli berbagai macam jenis petasan bersama mereka.
'Ya
udah aku pamit ya, Ma,' kata gue sambil mencium tangan Nyokap. Dia
mencium pipi gue, lalu mengingatkan agar hati-hati di jalan. Malam itu,
gue main petasan di jalan.
Di suatu malam selesai Tarawihan, Amir mengajak gue dan Henri ke
kompleks Kebalen, sebuah kompleks perumahan yang tidak jauh dari rumah
kami. Di sana kami nongkrong di pos siskamling kosong dengan kentongan
berbentuk cabe yang menggantung di luar jendela.
'Gue ngajak lo ke sini.' Amir sesekali menoleh ke kanan-kiri. 'Soalnya di kompleks ini ada musuh gue.'
Sambil makan kacang sukro pedes, Henri nanya, 'Musuh gimana maksud lo?'
'Ada anak namanya Ujay. Anak Kebalen, temen SD gue juga. Dia ngerebut cewek gue.'
'Lo udah punya cewek, Mir?' tanya gue.
'Yoi dong. Mantan,' kata Amir sambil menaikkan alisnya, entah kenapa gue merasa dia berbohong.
Amir menunjuk ke kerumunan anak-anak kecil yang lagi nongkrong di bawah
lampu jalan. Jumlahnya tidak terlalu banyak, paling-paling sepuluh
orang. 'Noh, itu anak-anaknya noh. Kita kerjain mereka.'
Amir mengambil petasan jangwe dari dalam plastik biru. Dia mengambil korek dari saku belakang celananya. Amir nyengir lebar.
'Mir,' kata gue. 'Lo.. lo mau ngapain?'
Tanpa menghiraukan pertanyaan gue, Amir menyalakan sebuah petasan
jangwe yang meluncur, berputar sebentar di udara, lalu menukik dan
meledak di dekat anak-anak Kebalen. Mereka semua menjerit kaget.
Salah satu anak dengan muka yang terlalu tua untuk muka anak SD, maju sambil teriak, 'WOI! Siapa itu woi!'
Amir keluar dari balik pos siskamling. Dia menjerit, 'Ape lo woi?!'
'Ape lo!' seru salah satu dari mereka lagi.
'Woooiii! Ape lo woi!' bales Amir.
Gak tau mesti ngapain, gue ikut-ikutan teriak, 'APE LO WOI!'
'APE LO WOI APE!'
Anak kecil kalau berantem emang begini, main keras-kerasan ngomong 'APE LO WO
Si anak kecil bermuka tua mengangkat tangannya, tanda agar semua orang
diam. Dia merogoh ke dalam tas punggung, mengeluarkan satu petasan besar
yang untuk digenggam aja susah.
'Waduh,' kata Henri. 'Itu petasan teko.'
'Beneran itu petasan teko?' tanya Amir. 'Waduh.'
Si muka tua menyalakan api ke sumbu petasan lalu menendang petasan itu ke arah kami. Petasan berguling tidak karuan.
'MAMPUS LO!' teriak si muka tua.
'AAAAAAAAAAAAH!'
jerit Henri sambil lari ke arah depan gang sambil menutup kupingnya.
Gue merem sambil berlari, suatu tindakan yang sesungguhnya bodoh. Gue
nabrak tiang listrik, buka mata sebentar, lalu merem sambil lari lagi.
Petasan teko itu masuk ke kolong pagar rumah orang, disusul ledakan yang
luar biasa besar. Dari dalam rumah tersebut terdengar teriakan seorang
bapak-bapak, 'WOI APE INI WOI!'
Si Bapak keluar cuma make celana
pendek dengan kaus singlet. Hidungnya mendengus, siap menyeruduk siapa
pun yang ada di depan dia. Kami dan anak-anak Kebalen kabur
kocar-kacir.
Henri sempet menengok ke belakang.
'Gue liat
muke lo! Gue liat muke lo!' kata bapak-bapak tadi sambil mengacungkan
tangannya. 'Kalo gue ketemu lo lagi, gue ledakin kepala lo!'
Henri lari tanpa ampun. Dia hampir pipis di celana.
Semenjak saat itu, hampir setiap habis Tarawih, kami perang petasan sama
anak-anak Kebalen. Jumlah mereka pada awalnya memang lebih banyak
daripada kami, tapi Amir akhirnya mengajak beberapa orang teman SD-nya,
jadi jumlah kami seimbang dengan mereka.
Kami berkumpul tiap jam sepuluh di pos siskamling komplek Kebalen, dan
seolah diam-diam janjian, anak-anak Kebalen juga sudah menunggu kami di
gang seberangnya, di dekat sebuah tanah kosong yang belum dibangun
rumah.
Perang petasan pun tidak bisa dihindarkan.
Durasi
perang petasan tergantung seberapa lama kami bisa berperang sampai ada
pemilik rumah sekitar situ yang terganggu karena berisik, lalu keluar
rumah dan memarahi kami. Di hari yang baik bisa berperang selama
setengah jam, tapi biasanya paling hanya lima sampai sepuluh menit.
Petasan
yang paling sering dipakai oleh kedua belah pihak adalah petasan
jangwe. Ini adalah petasan yang ideal untuk dipakai perang: dapat
meluncur dari jauh, berisik, dan gampang dibawa. Gue sendiri takut
nyalain petasan jangwe. Gue hanya berani main petasan cabe atau petasan
banting. Petasan ini adalah petasan yang paling cemen dalam dunia
perpetasan. Bentuknya kecil, fungsinya untuk dibanting, lalu bunyi
pletak. Udah, gitu doang.
KARYA : RADITYA DIKA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar