ASSALAMU'ALAIKUM, SELAMAT DATANG DI BLOG SAYA "CERITAHARBYSEMUA" SEMOGA BERMANFAAT YAH! INSYA ALLAH! FOLLOW DULU YUK @Harby_RF dan @Critaharbysemua | SALAM SEMANGAT UNTUK PARA PEMBACA & PEMUDA-PEMUDI ISLAMI

Selasa, 21 Mei 2013

Balada Lima Pemuda dan Sampan Terukir


Sore hari di tengah remang jingga matahari dan hiruk pikuk kota, berkumpul lima pemuda di sebuah rumah sederhana sehabis menghabiskan waktunya dan mencurahkan pikiran dan tenaganya di ruang kuliah. Mereka terlibat pembicaraan ringan dan hangat, kelima pemuda itu adalah uki, ipan, nde, iki, isal.


“menurut lo pada arti hidup sama persahabatan itu apa?” tanya ipan sambil tiduran terletang memandang langit.

“hidup itu tentang memilih jalan atas apa yang kita inginkan dan tanggung jawab setelah itu” jawab isal singkat sembari mengehembuskan asap ***** dari mulutnya.

“terus persahabatan apa?” tanya pan sambil merubah posisi tidurnya menjadi miring menghadap isal yang sedang duduk menghisap puntung ***** di tangan kirinya.

“persahabatan itu, kayak kopi” jawab isal yang memang agak selebor

“maksud lo” tanya ipan sambil matanya mendelik menatap isal

“kopi itu item dan butek keliatannya, tapi di dalamnya ada paduan rasa pahit dan manis yang bisa bikin orang ketagihan dan menyukainya, sama kayak persahabatan, Walau terkadang persahabatan itu terlihat aneh secara kasat mata. Tapi bagaimana cara kita bisa saling paham atas kekurangan dan kelebihan kita masing-masing dan menyatukannya sehingga kita saling terikat, saling nyaman dan percaya”. Selorohnya panjang lebar sambil melanjutkan menghisap puntung *****nya

“kalo buat gua hidup itu perjuangan” celetuk uki tiba-tiba “dan persahabatan itu Bhinneka Tunggal Ika” lanjut si uki dengan nada berapi–api dan mata yang berbinar-binar kepada pan yang juga ikut bersemangat.

“kalo buat lo apa pan?” tanya uki tiba-tiba yang membuat pani kaget.

“hah… buat gua hidup itu pembelajaran di setiap harinya” jawab pan sambil merubah posisinya yang tadinya merebah di lantai kini duduk memeluk lutut seperti teman-temannya.

“kalo lo ki?” tanya uki singkat pada iki. Tapi entah kenapa kini uki yang bersemangat mengetahui jawaban teman-temannya padahal pan yang bertanya pada awalnya.

“buat gua hidup itu proses dan perjalanan walaupun tidak ada patokan mutlak dalam mengarungi segala pengalamannya karena semuanya bersifat subjektif” jawab ki sambil terus membaca buku yang dia pegang tanpa menoleh kepada uki.

“Kalo persahabatan?” tanya uki mencecar.

“persahabatan itu kayak taman bunga mawar dan melati walaupun penuh dengan duri tapi indah dan harum untuk dinikmati sehingga lebah bisa menghisap sarinya dan menjadikan madu yang manis dan harum”. Jawab ki sambil menghadapkan wajahnya menatap langit.

“maksudnya?” tanya uki sambil beringsut mendekat pada iki.

“mawar itu penuh duri tapi indah begitu juga persahabatan banyak romantika didalamnya tapi itu menambah keindahan di dalamnya. Sedangkan melati itu putih dan harum menandakan persahabatan seperti itu akan tetap suci dan harum, dan lebah dengan madu yang manis adalah hasil akhir dari persahabatan yang kita rasakan nanti”. Kelakar iki panjang lebar pada uki sambil menebar senyum dan dibalas oleh uki yang manggut-manggut sambil menatap langit.

“Kalo lo nde?” kali ini ipan yang bertanya pada nde yang sedang asyik mengukir kayu yang selalu dia bawa-bawa.

“lo semua udah jawab tentang hidup dan persahabatan dengan cara lo masing-masing dan gua setuju sama lo semua”. Jawab si nde sambil terus ngukir.

“lo semua tau nggak apa yang lagi gua buat ini?” tanya nde balik tapi kali ini pertanyaan itu tertuju pada semua teman-temannya.

“Nggak” jawab iki, uki ipan dan isal serempak layaknya paduan suara.

“gua lagi buat sampan.” Jawab nde singkat “dan lo semua tau apa maksudnya?”

“nggak” kembali mereka berempat menjawab serempak di tambah rasa penasaran.

“sampan itu alat untuk mengarungi laut yang kadang berombak dan tenang, sampan ini ada dua sisi dan setiap sisinya gua ukir nama lo semua”. Jawaban nde itu membuat iki, uki, isal dan ipan semakin penasaran.

“maksud gua bikin sampan ini adalah untuk mengingatkan gua bahwa gua pernah menjalani proses perjalanan perjuangan pilihan kehidupan bersama kalian dalam sebuah sampan kehidupan dan persahabatan. Gua Cuma bisa membenarkan semua kata-kata kalian karena gua bukan orang yang cerdas dan pintar kayak kalian dan gua ukir nama kalian supaya gua inget gua pernah jadi bagian dari hidup dan persahabatan kalian yang pinter dan cerdas dan gua bersyukur akan hal itu”.
Jawaban itu membuat uki, iki, isal dan ipan tercengang bahkan membuat mereka saling pandang sejenak tapi mereka berlima sepakat dan paham dalam benak mereka masing-masing bahwa sesungguhnya hidup dan persahabatan itu adalah sebuah ketulusan dan rasa syukur. Setelah perbincangan hangat itu berakhir mereka sepakat untuk diam dan memandang langit bersama yang mulai hilang bias jingganya meninggalkan lima orang pemuda dan sampan yang terukir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar